• Jl. Tentara Pelajar 3A, Cimanggu Bogor
  • (0251) 8337975 (WA) +628111756776
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Kerjasama
  • Publikasi
    • Buku
    • Pengumuman
    • Infografis
    • Jurnal AgroBiogen
    • Buletin Plasma Nutfah
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Kontak
Thumb
27 dilihat       27 Oktober 2026

Di Tengah Tantangan Budidaya, Petani Lamandau Jaga Padi Lokal

LAMANDAU — Bunga Buluh, Semondung, Sehuwi, Kumpang Omas, hingga Ronik merupakan sebagian varietas padi lokal yang menjadi kekayaan sumber daya genetik pertanian Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Varietas tersebut tidak hanya menyimpan karakteristik genetik yang beradaptasi dengan lingkungan setempat, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan pengetahuan pertanian masyarakat. Namun, keberlanjutannya menghadapi tantangan, mulai dari perubahan penggunaan lahan dan serangan hama hingga keterbatasan penerapan teknik budidaya yang berkelanjutan.

Menjaga padi lokal membutuhkan upaya yang lebih luas daripada sekedar mempertahankan benih. Petani perlu memastikan varietas tetap ditanam, kualitas benih terjaga, dan hasil pertanian memberikan manfaat bagi kehidupan keluarga. Hal ini menjadi perhatian dalam Pelatihan Konservasi In Situ dan On-Farm untuk Tanaman Kerabat Liar (Crop Wild Relatives/CWR) dan Tanaman Lokal (Local Rice Species/LRS) yang didukung Program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) (22-25/10/2026). Pelatihan berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bulik (22-23/10/2026) dan BPP Kecamatan Delang (24-25/10/2026).

Salah satu tantangan yang dihadapi petani adalah mempertahankan praktik budidaya padi ladang di tengah keterbatasan metode pembukaan lahan tanpa bakar yang terjangkau. Dalam pemaparan mengenai pelestarian sumber daya genetik, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Lamandau, Yahya B. Mahmud, S.P., menjelaskan dukungan pemerintah daerah melalui bantuan sarana produksi untuk padi lahan kering. Catatan pelatihan juga menyoroti kekhawatiran petani terhadap keterbatasan pembukaan lahan, yang berpotensi membuat benih siap tanam tidak dapat segera dibudidayakan. Karena itu, diperlukan alternatif teknis yang sesuai dengan kondisi lahan dan kemampuan petani, disertai pendampingan serta dukungan kebijakan.

Di tingkat budidaya, pelestarian juga bergantung pada kemampuan petani menjaga kemurnian benih dan mengelola lahan secara tepat. Petani di Kecamatan Delang, misalnya, telah menerapkan seleksi bulir sebelum penyimpanan, menghindari pemanenan benih saat atau setelah hujan, serta memisahkan varietas ketika menanam. Pelatihan turut membahas konservasi in situ di habitat asli, on-farm melalui budidaya di lahan pertanian, dan ex situ melalui penyimpanan di luar habitat aslinya, termasuk bank gen. Ketiga pendekatan tersebut dapat saling melengkapi untuk menjaga keragaman genetik sekaligus mempertahankan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.

Kearifan lokal juga terlihat dalam kebiasaan petani menanam beragam komoditas dalam satu hamparan. Selain padi, mereka membudidayakan tanaman sela seperti talas atau keladi, timun batu, dan labu kuning. Praktik ini dibahas melalui latihan kelompok yang mencakup pemurnian benih, pencatatan biaya produksi, perhitungan hasil panen, serta analisis pendapatan usaha tani. Dengan pencatatan yang lebih baik, petani dapat mengevaluasi pilihan varietas dan pola tanam, sekaligus memahami potensi tanaman sela dalam mendukung pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.

Kekayaan pertanian Lamandau tidak berhenti pada padi. Masyarakat juga mengenal berbagai jenis talas dan uwi lokal dengan ciri serta cara pengolahan yang berbeda. Pengetahuan mengenai nama varietas, karakteristik tanaman, waktu panen, dan teknik pengolahan menjadi bagian penting yang perlu didokumentasikan agar tidak hilang. Dalam pelatihan, peserta turut membahas pentingnya mempertahankan nilai-nilai tradisional dan mendorong generasi muda untuk tetap terlibat dalam pertanian. Bagi masyarakat adat, pelestarian tanaman berkaitan erat dengan hubungan antara manusia, alam, dan tradisi yang membentuk kehidupan mereka.

Meski memiliki kekayaan varietas, petani masih menghadapi persoalan yang beragam di setiap desa. Di Nyalang, kendala yang dicatat mencakup serangan hama, kekeringan, dan kerusakan lumbung padi. Petani Nanga Penyombaan menghadapi kemarau panjang serta serangan hama, sedangkan di Riam Tinggi terdapat masalah ulat dan penggerek batang. Di Kinipan, beberapa varietas dilaporkan rentan terhadap hama dan penyakit serta menghasilkan panen yang relatif sedikit. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendampingan berkelanjutan, penguatan pengelolaan benih, dan penerapan praktik budidaya yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa.

“Kami berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah, penyuluh pertanian, dan pihak terkait agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan langsung di lapangan,” demikian harapan peserta yang tercatat dalam notulensi pelatihan. Melalui CDCSUI, upaya konservasi padi lokal, talas, uwi, dan kerabat liarnya diharapkan berjalan seiring dengan penguatan kapasitas petani, perbaikan praktik budidaya, dan peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian. Dengan kolaborasi pemerintah, penyuluh, masyarakat adat, dan petani, kekayaan sumber daya genetik Lamandau diharapkan tetap terjaga sekaligus menjadi penopang ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat lintas generasi.

Prev Next

- BRMP Biogen


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Perkuat Mutu dan Daya Saing Rempah, Petani Halmahera Selatan Ikuti Bimtek Pala dan Cengkeh
    31 Okt 2026 - By BRMP Biogen
  • Thumb
    CDCSUI Perkenalkan Produk UMKM Berbasis Pala dan Rempah di Pameran FAO
    30 Okt 2026 - By BRMP Biogen
  • Thumb
    Bimtek di Tidore Dorong Hilirisasi Pala dan Cengkeh Jadi Produk Bernilai Tambah
    29 Okt 2026 - By BRMP Biogen
  • Thumb
    BRMP Biogen Ikuti Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda
    28 Okt 2026 - By BRMP Biogen
  • Thumb
    Dari Daging Buah Pala, UMKM Ternate Hadirkan Produk Pangan Bernilai Tambah
    28 Okt 2026 - By BRMP Biogen

tags

BRMP Biogen CDCSUI

Kontak

(0251) 8337975 (WA) +628111756776
(0251) 8333975
[email protected]

Jl. Tentara Pelajar No.3A, RT.02/RW.7, Menteng, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat 16111
Indonesia

website: https://biogen.brmp.pertanian.go.id

© 2023 - 2026 Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian. All Right Reserved